Showing posts with label LEADERSHIP. Show all posts
Showing posts with label LEADERSHIP. Show all posts

Friday, 1 June 2012

KEPEMIMPINAN ISLAM


KEPEMIMPINAN ISLAM

A. Latar Belakang
Kemajuan suatu kelompok atau bangsa tidak terlepas dari pemimpinnya. Dengan kepemimpinannya seseorang dapat menggerakkan seluruh bawahannya agar bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Dengan kepemimpinan yang baik serta progress yang tinggi maka bangsa tersebut dipastikan dapat  maju dan berkembang.
Begitu pula dengan Islam. Sebagai sebuah kesatuan umat, Islam memerlukan seseorang yang memang benar-benar kompeten dalam memimpin umat. Dalam sejarah, umat Islam pernah memiliki beberapa pemimpin hebat yang dapat memajukan peradaban. Kepemimpinan tersebut dapat dilihat melalui kepemimpinan Muhammad SAW, Khulafaurrasyidin, Dinasti Umayah (Umar bin abdul azis) serta Dinasti Abassiyah (Harun Ar Rasyid). Bahkan, sejarah mencatat bahwa Islam pernah berjaya di era abad pertengahan dimana pada saat itu Islam menguasai hampir sepertiga wilayah di bumi. Kekuasaan Dinasti maupun Dinasti Abbasiyah merupakan dua kerajaan terbesar dalam sejarah umat Islam. Dari fakta sejarah tersebut maka dapat diketahui bahwa Islam memiliki sebuah konsep tersendiri mengenai kepemimpinan sehingga dapat maju pada saat itu.
Namun jika dilihat pada saat ini dimana terdapat berbagai macam aliran dan golongan, serta tantangan global yang tinggi, deklarasi kepemimpinan yang mengacu pada satu pimpinan sangat sulit untuk diterapkan. Karena umat Islam saat ini tidak hanya menetap dalam satu wilayah saja namun menyebar di seluruh pelosok penjuru dunia sehingga sangat sulit untuk menyatukan dalam satu wadah yang disebut negara.
Begitu pula indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Apakah kepemimpinan Islam dapat diterapkan dalam ke-pluralitas-an Indonesia atau malah akan menjadikan mundur bangsa.



Maka dari itu perlu diketahui beberapa hal mengenai kepemimpinan Islam, baik konsepnya maupun sosok pemimpin itu sendiri. Juga perlu diketahui dapatkah konsep tersebut diterapkan di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep kepemimpinan Islam itu?
2. Bagaimana  jika konsep kepemimpinan Islam diterapkan di Indonesia?
























BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Islam
            Sebelum mengenal lebih jauh mengenai kepemimpinan Islam, perlu diketahui bahwa menurut pandangan AL Qur’an kekuasaan tertinggi di alam semesta yaitu Allah SWT. Manusia hanyalah sebagai wakil Allah di bumi yang disebut khalifah. Seperti dalam QS. Al Baqarah ayat 2 yang artinya :

”Dan ingatlah ketika Tuhan mu berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi...”

            Yang dimaksud khalifah dalam ayat tersebut adalah manusia. Sesuai ayat tersebut menyatakan bahwa manusia adalah wakil tuhan di bumi sehingga manusia dibekali akal, hati dan pikiran untuk menjalankan kekhalifahannya
1. Pemimpin
Setiap kepemimpinan tidak akan terlepas dari sosok seorang pemimpin yaitu orang yang menjadi wakil dari golongannya. Begitu pula dengan umat Islam, sebagai kesatuan umat membutuhkan sosok seorang pemimpin. Sosok pemimpin dapat kita lihat dalam pribadi Rosulullah SAW.
Rasulullah SAW sebagai uswatun khasanah merupakan contoh yang baik dalam kepemimpinan. Hal ini terbukti dengan keberhasilan beliau dalam menghadapi segala tantangan yang ada. Seperti ancaman kaum Quraisy, mempersatukan kaum Anshor dan Muhajirin serta beberapa peperangan yang terjadi.Untuk itu sebagai umat Islam hendaknya selalu mencontoh kepemimpinan Rosulullah SAW.
Adapun kepemimpinan nabi didasarkan pada empat sifat yaitu[1] :
a. Sidiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap.
b. Amanah, yaitu dapat kepercayaan, dalam hal ini seorang pemimpin harus bertanggung jawab dalam menjalankan amanat yang diberikan kepadanya sebagai seorang pemimpin.
c. Fathanah, yaitu kecerdasan yang mampu melahirkan kemampuan menghadapi segala tantangan.
d. Tabligh, penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab, atau dapat diistilahkan dengan keterbukaan.
                                        
2. Perundang-undangan
Suatu kepemimpinan jikaa hendak berjalan dengan baik dan tertata harus mempunyai sistem perundang-undangan. Pokok dasar perundangan Islam terlihat  dalam QS. An Nisa’ ayat 59 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian....”

Konstitusi Dasar berdasarkan ayat tersebut adalah sebagai berikut [2]:
a. Ketaatan pada Allah SWT dan Rasul didahulukan dari ketaatan yang lainnya.
b. Ketaatan pada ulil amri
c. Ulil amri adalah orang-orang mukmin
d. Rakyat mempunyai hak menggugat pemerintahan.
e. Kekuatan penentu dalam setiap perselisihan adalah undang-undang Allah dan Rasul-Nya.
f. Diperlukan suatu badan yang merdeka dimana tidak tertekan oleh rakyat maupun penguasa.



3.Prinsip Kepemimpinan Menurut Islam
Kepemimpinan menurut islam yaitu musyawarah, adil, dan kebebasan berfikir:[3] ketiga hal tersebut merupakan prinsip hablumminannas dalam Islam.
a. Musyawarah
Dalam QS. Ali Imran : 159 disebutkan :

“...bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu...”

       Sesuai dengan ayat tersebut dalam perselisihan dan persoalan harus diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Melalui musyawarah memungkinkan seluruh komunitas islam akan turut beserta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan sebagai wahana dalam mengawasi tingkah laku para pemimpin. Setiap hasil keputusan yang dihasilkan musyawarah harus ditaati oleh seluruh komponen bangsa.

b. Adil
Dalam surat An Nisa ayat 58, Alloh berfirman :
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”
           
Sifat adil dalam pemerintahan Islam adalah dengan tidak membeda-bedakan rakyat baik kaya maupun miskin, hitam maupun putih, golongan atau ras, dan lain sebagainya. Hubungan antar sesama manusia adalah sama.



c. Kebebasan berfikir
Dalam kepemimpinan Islam kebebasan berfikir sangat diperhatikan agar prinsip pertama dapat terwujud (musyawarah). Pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memberikan ruang bagi kelompoknya untuk mengemukakan kritik. Mereka diberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat baik saran maupun kritik yang konstrusional. Sehingga agar suatu kepemimpinan dapat sukses, seorang pemimpin hendaknya menciptakan suasana kebebasan dan pertukaran gagasan yang sehat. Kesuksesan tersebut akan berdampak pada majunya suatu kelompok.
Mengenai saling bertukar pendapat tersebut sesuai dengan hadits, Rasulullah bersabda: “agama adalah nasehat. Kami berkata kepada siapa? Beliau menjawab: Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin umat islam, dan kepada masyarakat kamu” H.R Muslim.

B. Kepemimpinan Islam di Indonesia
Seperti yang telah diketahui di atas, ada beberapa landasan mengenai kepemimpinan Islam seperti hakekat pemimpin, pokok perundang-undangan, dan prinsip-prinsip pemerintahan Islam. Dengan konsep tersebut Nabi Muhammad SAW telah berhasil menyebarkan Islam di jazirah Arab yang kemudian dilanjutkan oleh Khulafaurrasyidin.
Sebagai agama rahmatan lil ‘alamin tentunya konsep tersebut harus dinamis dan dapat diterapkan di seluruh bumi termasuk Indonesia. Jika kita lihat Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam  suku bangsa, ras, agama dan budaya. Tentunya konsep kepemimpinan Islam seperti di atas harus mengalami contextualisation agar sesuai dengan keragamannya tersebut. Untuk itulah Indonesia saat ini menggunakan Pancasila sebagai landasan kepemimpinan.
Secara harfiah konsep kepemimpinan yang terkandung dalam Pancasila sudah sesuai dengan yang tertera dalam konsep kepemimpinan Islam. Hal iini terlihat dalam sila-sila Pancasila yaitu berlandaskan ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sila pertama, Ketuhannan yang maha esa, sesuai dengan konstitusi dasar kepemimpinan Islam yaitu ketaatan pada Allah dan Rasul. Sedangkan sila kedua dan selanjutnya merupakan prinsip hablumminannas yang tercakup dalam Islam dalam menjalani kehidupan.
Namun tentunya bangsa Indonesia juga mempunyai banyak masalah yang menyangkut kepemimpinan seperti persatuan  umat, transparansi keuangan, profil pemimpin itu sendiri serta masalah lain.
Mengenai persatuan umat, permasalahannya saat ini yaitu sifat fanatis yang menghinggapi warga negara bangsa Indonesia. Dengan sifat fanatis yang berlebihan persatuan umat tidak akan bisa terwujud.
Masalah transparansi keuangan, terlihat saat ini banyak pemimpin yang korupsi. Padahal mereka adalah wakil-wakil rakyat yang dibayar dengan uang namun berusaha menyelundupkan uang rakyat untuk kepentingan sendiri.
Profil pemimpinan saat ini terlihat lebih mengutamakan golongannya daripada kemaslahatan umum. Hal yang paling menonjol adalah ketika Soeharto (Alm) sangat mengandalkan partainya. Meskipun bangsa Indonesia terlihat maju namun dominasi partai Golkar sangat kentara. Demikian juga dengan SBY, terlihat mementingkan golongan dengan tidak bertindak cepat ketika kasus korupsi yang menyangkut partainya.
Oleh karena itu dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu meng-handle negeri yang luas dan kaya ini serta mampu menggerakkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dan konsep pemimpin yang mampu seperti itu sesuai dengan konsep Islam meski Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya dan agama.
Kita lihat sejarah Nabi dan Khulafaurrasyidin yang dapat menyatukan Tanah Arab dengan berbagai fanatisme kesukuan. Semua keberhasilan tersebut karena mereka menggunakan konsep Islam dalam memimpin.
Profil kepemimpinan jugadapat dilihat pada diri Umar bin Abdul Azis sebagai khalifah Bani Umayyah ketika mencapai zaman keemasan. Umar bin Abdul Azis adalah profil pemimpin yang menjunjung tinggi kesederhanaan. Seluruh harta dan kekayaan negara dipergunakan seluas-luasnya untuk kepentingan rakyat. Tidak untuk dikorupsi atau memperkaya sendiri.
            Dengan profil kepemimpinan Islam yang sangat menjunjung tinggi permusyawaratan, keadilan dan kebebasan saangat cocok untuk bangsa Indonesia. Karakter pemimpin yang adil, demokratis, tegas dan cerdas sangat dibutuhkan bangsa saat ini untuk memajukan peradaban bangsa Indonesia yang lebih maju.
           





















BAB III
PENUTUP

Simpulan
            Dari beberapa ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepimpinan Islam memiliku beberapa prinsip dan peraturan perundangan yang telah dituntunkan oleh Al Qur’an.
            Pemimpin yang baik harus berlandaskan pada empat sifat yaitu sidiq, amanah, tabligh, fathonah. Konstitusi dasar peraturan perundangan sesuai dengan QS. An Nisa : 59 yaitu ketaatan pada Allah SWT dan Rasul didahulukan dari ketaatan yang lainnya, ketaatan pada ulil amri, ulil amri adalah orang-orang mukmin, rakyat mempunyai hak menggugat pemerintahan, kekuatan penentu dalam setiap perselisihan adalah undang-undang Allah dan Rasul-Nya, diperlukan suatu badan yang merdeka dimana tidak tertekan oleh rakyat maupun penguasa. Dang yang terakhir prinsip  kepemimpinan yaitu musyawarah, keadilan dan kebebasan berfikir.
            Konsep kepemimpinan Islam dapat diterapkan di Indonesia dengan melalui proses kontekstualisasi. Hasil dari kontekstualisasi tersebut dapat kita lihat dalam Pancasila. Di dalam Pancasila menganut nilai-nilai luhur sebagai pedoman menjadi seorang pemimpin.
            Namun dalam praktik kehidupan berbangsa saat ini dimana terjadi  banyak sekali pemimpin-pemimpin yang korup dan fanatis diperlukan perubahan dalam mengamanahkan sebuah tanggung jawab besar kepada seorang pemimpin. Untuk itu dalam setiap pemilihan hendaknya setiap pemilih melihat konsep-konsep Islam menngenai pemimpin. Hal ini diharapkan nantinya pemimpin yang terpilih dapat menjadi imam bagi seluruh bangsa.





DAFTAR PUSTAKA

Abul A’la Al Maududi. 2007. Khilafah dan Kerajaan. Bandung : Karisma
Al Qur’an dan terjemahan
Munawir, Imam. Asas-asas Kepemimpinan dalam Islam. Surabaya : Usaha Nasional
Rivai, Veithzal dan Arviyan Arifin.2009. Islamic Leadership. Jakarta: Bumi Aksara
Tobroni. 1994. Islam, Pluralisme, Budaya dan Politik. Jogjakarta : Sipress


[1] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Leadership, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), hal.
[2] Abul A’la Al Maududi, Khilafah dan Kerajaan,Cetakan ke-1(Bandung:Karisma,2007), hal. 67
[3] Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Leadership, (Jakarta: Bumi Aksara,2009), hal. 154

TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia dilahirkan didunia ini untuk menjadi pemimpin atau kholifah fil ‘ardhi sebagaimana firman Allah dalam surat Al-baqoroh: 30 yang berbunyi: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
Menurut Bachtiar Surin yang dikutip oleh Maman Ukas bahwa “Perkataan Kholifah berarti penghubung atau pemimpin yang diserahi untuk menyampaikan atau memimpin sesuatu”.
Dari uraian diatas telah tampak jelas bahwa manusia dilahirkan telah membawa sifat dan mengemban tugas sebagai seorang pemimpin.  Dan dengan perkembangan zaman yang serba dituntut untuk menuju perubahan serta semakin kompleksnya masalah-masalah yang timbul, seorang pemimpin membutuhkan ilmu sebagai petunjuk untuk menuntun umatnya. Di sinilah peran pendidikan sebagai lahan pengembangan potensi diperlukan. Dan tujuan pendidikan tak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam manajemen pendidikan ini diperlukan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memimpin.
Pemimpin merupakan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk memberikan komando atau arahan untuk mencapai tujuan tertentu. Dan peran seorang pemimpin dalam organisasi dapat mempengaruhi moral, kepuasan kerja dan kwalitas kehidupan kerja para bawahan, dan selanjutnya keberhasilan bawahan akan mempengaruhi tingkat prestasi organisasi. Sebab perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh perilaku setiap individu yang ada di dalam organisasi tersebut. Dan dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja tipe-tipe kepemimpinan?
2.      Bagaimanakah cirri-ciri dan tipe kepemimpinan yang baik?
3.      Apa hakikat kepemimpinan?
4.      Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan?
5.      Bagaimanakah peranan seorang pemimpin?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Tipe-Tipe Kepemimpinan
Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinan maka akan berlangsung aktivitas kepemimpinan. Hal ini apabila dipilah-pilah maka akan terlihat gaya kepemimpinan dengan pola masing-masing.[1] Dan setiap pemimpin memiliki karakteristik atau tipe kepemimpinan yang berbeda-beda antar satu pemimpin dengan pemimpin yang lain. Secara garis besarnya tipe kepemimpinan dibagi menjadi tiga pola dasar, yakni:
1.      Gaya kepemimpinan yang berpola pada kepentingan pelaksanaan tugas.
2.      Gaya kepemimpinan yang berpola pada pelaksanaan hubungan kerja sama.
3.      Gaya kepemimpinan yang berpola pada kepentingan hasil yang akan dicapai.
Berdasarkan pola-pola tersebut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :
1.        Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership)
Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2.        Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership)
Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3.        Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership)
Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
4.        Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership)
Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
5.        Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership)
Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6.        Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership)
Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.
Daniel Goleman, ahli di bidang EQ, melakukan penelitian tentang tipe-tipe kepemimpinan dan menemukan ada 6 (enam) tipe kepemimpinan. Penelitian itu membuktikan pengaruh dari masing-masing tipe terhadap iklim kerja perusahaan, kelompok, divisi serta prestasi keuangan perusahaan. Namun hasil penelitian itu juga menunjukkan, hasil kepemimpinan yang terbaik tidak dihasilkan dari satu macam tipe. Yang paling baik justru jika seorang pemimpin dapat mengkombinasikan beberapa tipe tersebut secara fleksibel dalam suatu waktu tertentu dan yang sesuai dengan bisnis yang sedang dijalankan. Memang, hanya sedikit jumlah pemimpin yang memiliki enam tipe tersebut dalam diri mereka. Pada umumnya hanya memiliki 2 (dua) atau beberapa saja. Penelitian yang dilakukan terhadap para pemimpin tersebut juga menghasilkan data, bahwa pemimpin yang paling berprestasi ternyata menilai diri mereka memiliki kecerdasan emosional yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada umumnya mereka menilai bahwa dirinya hanya memiliki satu atau dua kemampuan kecerdasan emosional.
Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.    Otokratis
Pemimpin yang demikian bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati karena pemimpin merupakan penentu nasib orang yang dipimpin. Pihak pemimpin memandang dirinya lebih dalam segala hal dibandingkan dengan pihak yang dipimpin. Tekanan berupa ancaman sanksi dan hukuman dijadikan alat utama dalam menjalankan kepemimpinannya.[2]                                             
2.    Demokratis
Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Pemimpin dengan tipe ini menganggap setiap individu harus dihormati eksistensi dan peranannya dalam memajukan dan mengembangkan organisasi. Oleh karena itu setiap kemauan, kehendak, kemampuan, buah pikiran, gagasan pendapat, minat dan perhatian dll yang berbeda-beda antar individu selalu dihargai dan disalurkan untuk kepentingan bersama.[3] Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
3.    Laissezfaire
Pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Selain dari pendapat diatas, menurut beberapa kelompok sarjana (dalam Kartono, 2003); Shinta (2002) membagi Tipe Kepemimpinan berbagai macam sebgaimana berikut:
1.      Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
2.      Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut:
a.    Mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan,
b.    Mereka bersikap terlalu melindungi,
c.    Mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri,
d.   Mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif,
e.    Mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri,
f.     Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
3.      Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah:
a.    Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana,
b.    Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan,
c.    Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan,
d.   Menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya,
e.    Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya,
f.     Komunikasi hanya berlangsung searah.
4.      Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain:
a.         Mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi,
b.        Pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal,
c.         Berambisi untuk merajai situasi,
d.        Setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri,
e.         Bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan,
f.         Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi,
g.        Adanya sikap eksklusivisme,
h.        Selalu ingin berkuasa secara absolut,
i.          Sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku,
j.          Pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5.      Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
6.      Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7.      Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpin bekerja secara berencana, sistematis dan tertib, dengan memanfaatkan berbagai masukan dari orang lain, baik dari dalam maupun luar organisasinya. Untuk itu dalam menentukan suatu putusan, pemimpin menyenangi musyawarah untuk memperoleh bahan masukan.[4] Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
8.      Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, tergantung pada situasi dan kondisi. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
B.  Ciri-ciri Pemimpin dan Kepemimpinan  Yang Baik
Sebagai seorang pemimpin yang mengingikan kemajuan bagi anggota dan organisasi yang dipimpinnya, hendaknya seorang pemimpin harus memiliki :
  1. Pengetahuan umum yang luas, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hirarki kepemimpinan organisasi, ia semakin dituntut untuk mampu berpikir dan bertindak secara generalis.
  2. Kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dalam memajukan organisasi.
  3. Sikap yang intuitif atau rasa ingin tahu, merupakan suatu sikap yang mencerminkan dua hal: pertama, tidak merasa puas dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki; kedua, kemauan dan keinginan untuk mencari dan menemukan hal-hal baru.
  4. Kemampuan Analitik, efektifitas kepemimpinan seseorang tidak lagi pada kemampuannya melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir. Cara dan kemampuan berpikir yang diperlukan adalah yang integralistik, strategik dan berorientasi pada pemecahan masalah.
  5. Daya ingat yang kuat, pemimpin harus mempunyai kemampuan inteletual yang berada di atas kemampuan rata-rata orang-orang yang dipimpinnya, salah satu bentuk kemampuan intelektual adalah daya ingat yang kuat.
  6. Kapasitas integratif, pemimpin harus menjadi seorang integrator dan memiliki pandangan holistik mengenai orgainasi.
  7. Ketrampilan berkomunikasi secara efektif, fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain : fungsi motivasi, fungsi ekspresi emosi, fungsi penyampaian informasi dan fungsi pengawasan.
  8. Keterampilan Mendidik, memiliki kemampuan menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bawahan, mengubah sikap dan perilakunya dan meningkatkan dedikasinya kepada organisasi.
  9. Rasionalitas, semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang semakin besar pula tuntutan kepadanya untuk membuktikan kemampuannya untuk berpikir. Hasil pemikiran itu akan terasa dampaknya tidak hanya dalam organisasi, akan tetapi juga dalam hubungan organisasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan di luar organisasi tersebut.
  10. Objektivitas, pemimpin diharapkan dan bahkan dituntut berperan sebagai bapak dan penasehat bagi para bawahannya.  Salah satu kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemudikan organisasi terletak pada kemampuannya bertindak secara objektif.
  11. Pragmatisme, dalam kehidupan organisasional, sikap yang pragmatis biasanya terwujud dalam bentuk sebagai berikut : pertama, kemampuan menentukan tujuan dan sasaran yang berada dalam jangkauan kemampuan untuk mencapainya yang berarti menetapkan tujuan dan sasaran yang realistik tanpa melupakan idealisme. Kedua, menerima kenyataan apabila dalam perjalanan hidup tidak selalu meraih hasil yang diharapkan.
  12. Kemampuan Menentukan Prioritas, dengan membedakan hal yang Urgen dan yang Penting
  13. Naluri yang Tepat, kemampuannya untuk memilih waktu yang tepat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
  14. Rasa Kohesi yang tinggi, :senasib sepenanggungan”, ketertarikan satu sama lain.
  15. Rasa Relevansi yang tinggi, pemimpin tersebut mampu berpikir dan bertindak sehingga hal-hal yang dikerjakannya mempunyai relevansi tinggi dan langsung dengan usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi.
  16. Keteladanan, seseorang yang dinilai pantas dijadikan sebagai panutan dan teladan dalam sikap, tindak-tanduk dan perilaku.
  17. Menjadi Pendengar yang Baik, tidak terlalu cepat memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain.
  18. Adaptabilitas, kepemimpinan selalu bersifat situasional, kondisional, temporal dan spatial.
  19. Fleksibilitas, mampu melakukan perubahan dalam cara berpikir, cara bertindak, sikap dan perilaku agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi tertentu yang dihadapi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip hidup yang dianut oleh seseorang.
  20. Ketegasan, keberanian, orientasi masa depan serta sikap yang antisipatif dan proaktif.
Dalam Astra Brata terdapat 8 sifat inti dalam tradisi Jawa yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin jika untuk menciptakan ketentraman dan kesejahteraan pada bawahannya.
Delapan sifat pemimpin menurut falsafah Asta Brata antara laian:
1. Laku Hambeging indra
Seorang yang dipercaya menjadi pemimpin, hendaknya mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam segala tindakannya dapat membawa kesejukan dan kewibawaan yang seperti bintang. Maknanya, seorang pemimpin haruslah kuat, tidak mudah goyah, berusaha menggunakan kemampuan untuk kebaikan rakyat, tidak mengumbar hawa nafsu, kuat hati dan tidak suka berpura-pura. Seorang pemimpin haruslah adil seperti air, yang jika di seduh di gelas akan rata mengikuti wadahnya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air juga tidak pernah emban oyot emban cindhe “pilih kasih” karena air akan selalu turun ke bawah, tidak naik ke atas.
2. Laku Hambeging Yama
Pemimpin hendaknya meneladani sikap dan sifat Dewa Yama, dimana Dewa Yama selalu menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi rakyatnya. Harus menindak tegas abdinya, jika mengetahui abdinya itu memakan uang rakyat dan mengkhianati negaranya. Dewa Yama memiliki sifat seperti mendung (awan), mengumpulkan segala yang tidak berguna menjadi lebih berguna. Adil tidak pilih kasih. Bisa memberikan ganjaran yang berupa hujan dan keteduhan. Jika ada yang salah maka akan dihukum dengan petir dan halilintar.
3. Laku Hambeging Surya
Seorang pemimpin yang baik haruslah memiliki sifat dan sikap seperti matahari (surya) yang mampu memberi semangat dan kekuatan yang penuh dinamika serta menjadi sumber energi bagi bumi pertiwi. Sifat matahari berarti sabar dalam bekerja, tajam, terarah dan tanpa pamrih. Semua yang dijemur pasti kena sinarnya, tapi tidak dengan serta merta langsung dikeringkan. Jalannya terarah dan luwes. Tujuannya agar setiap manusia sabar dan tidak sulit dalam mengupayakan rejeki. Menjadi matahari juga berarti menjadi inspirasi pada bawahannya, ibarat matahari yang selalu menyinari semesta.
4. Laku Hambeging Candra
Pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap yang mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kebodohan dengan wajah yang penuh kesejukan seperti rembulan (candra), penuh simpati, sehingga rakyat menjadi tentram dan hidup dengan nyaman. Rembulan juga bersifat halus budi, terang perangai, menebarkan keindahan kepada seisi alam. Seorang pemimpin harus berlaku demikian, menjadi penerang bagi rakyatnya.
5. Laku Hambeging Maruta
Maruta adalah angin. Pemimpin harus menjadi seperti angin. Senantiasa memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah melihat rakyatnya. Angin tidak berhenti memeriksa dan meneliti, selalu melihat perilaku manusia, bisa menjelma besar atau kecil, berguna jika digunakan. Jalannya tidak kelihatan, nafsunya tidak ditonjolkan. Jika ditolak ia tidak marah dan jika ditarik ia tidak dibenci. Seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan bawahannya. Biasanya, bawahan bagitu pelit dan selektif dalam memberikan laporan kepada pemimpin, dan terkadang hanya kondisi baik-baiknya saja yang dilaporkan.
6. Laku Hambeging Bumi
Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi, yaitu teguh, menjadi landasan pijak dan memberi kehidupan (kesejahteraan) untuk rakyatnya. Bumi selalu dicangkul dan digali, namun bumi tetap ikhlas dan rela. Begitu pula dengan seorang pemimpin yang rela berkorban kepentingan pribadinya untuk kepentingan rakyat. Seorang pemimpin haruslah memiliki sikap welas asih seperti sifat-sifat bumi. Falsafah bumi yang lain adalah air tuba dibalas dengan air susu. Keburukan selalu dibalas dengan kebaikan dan keluhuran.
7. Laku Hambeging Baruna
Baruna berarti samudra yang luas. Sebuah samudra memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan. Samudera merupakan wadah air yang memiliki sifat pemaaf, bukan pendendam. Air selalu diciduk dan diambil tapi pulih tanpa ada bekasnya. Seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf, sebagaimana sifat air dalam sebuah samudra yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Samudra mencerminkan jiwa yang mendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkarakter majemuk.
8. Laku hambeging Agni
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api (agni), yang selalu mendorong rakyatnya memiliki sikap nasionalisme. Seperti api, berarti pemimpin juga harus memiliki prinsip menindak yang bersalah tanpa pilih kasih. Api bisa membakar apa saja, menghanguskan semak-semak, menerangkan yang gelap. Bisa bersabar namun juga bisa sangat marah membela rakyatnya jika dizolimi dan tetap memiliki pertimbangan berdasarkan akal sehat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa untuk efektifitasnya suatu organisasi, seorang pemimpin hendaknya memiliki ciri tersebut. Selain itu kemampuan dalam berkomunikasi juga sangat dibutuhkan. Sebab dalam menjalankan suatu organisasi akan terjalin interaksi antara orang-orang yang berada di dalam maupun diluar organisasi. Untuk itu hubungan vertikal antara  pimpinan dan bawahan dan hubungan horizontal antara sesama rekan sejawat harus dipelihara diantara keduanya agar kerjasama dapat berjalan dengan baik.
C.   Hakikat Pemimpin
“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”
Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan mudah.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
D.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aktifitas Pemimpin
Dalam melaksanakan tugasnya dalam kepemimpinan seoarang pemimpin dipengarui oleh beberapa factor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutif  Nanang Fattah, sebagai berikut :
  1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
  2. Harapan dan perilaku atasan.
  3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.
  4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
  5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
  6. Harapan dan perilaku rekan.
 Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa sukses gagalnya suatu  kepemimpinan dipengaruhi oleh factor-faktor yang tersebut, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi.
E.  Peranan Pemimpin
Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
1.        Sebagai pelaksana (executive)
2.        Sebagai perencana (planner)
3.        Sebagai seorangahli (expert)
4.        Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)
5.        Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)
6.        Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)
7.        Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
8.        Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
9.        Merupakan lambing dari pada kelompok (symbol of the group)
10.    Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)
11.    Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)
12.    Bertindak sebagai seorang aya (father figure)
13.    Sebagai kambing hitam (scape goat).
Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang diembannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :
a.         Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.
b.        Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.
c.         Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan. 
Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.
Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Seorang pemimpin dalam realitasnya memiliki tipe-tipe kepemimpinan yang berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Tipe-tipe tersebut diantaranya adalah:
1.      Tipe kepemimpinan pribadi
2.      Tipe kepemimpinan non pribadi
3.      Tipe kepemimpinan otoriter/militer
4.      Tipe kepemimpinan demokratis
5.      Tipe kepemimpinan paternalis/maternalistic
6.      Tipe kepemimpinan menurut bakat/ kharisma
7.      Tipe kepemimpinan Laizes faire
8.      Tipe kepemimpinan populis
9.      Tipe kepemimpinan administrative/esekutiv
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, tergantung pada situasi dan kondisi. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dan sukses tau tidaknya suatu kepemimpinan dipengaruhi oleh pribadi pemimpin, bawahan dan situasi.
DAFTAR PUSTAKA
Asrori Ircham. 2010. Makalah Leadership, Tipe-tipe Kepemimpinan. IAIN Sulthan Thoha Syaifudin: Jambi
Nawawi, Hadari. 1993. Kepemimpinan Menurut Islam. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta
Supardo, Susilo. 2006. Kepemimpinan Dasar-dasar dan Pengembangannya. Andi: Yogyakarta
Veithsal dan Deddy. 2010. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta



[1] Veithzal Rivai dan Dedy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010) hal.36
[2] Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993) hal.161
[3] Ibid, hal. 168
[4] Ibid, hal. 181